Lemahnya Legitimasi Nilai Pendidikan
Oleh Emha Ainun Nadjib
Teman-teman sekalian, Assalamualaikum wr wb.
Bisa jadi salah satu kemungkinan jawaban kenapa situasi demoralisasi bangsa kita sedemikian parahnya itu karena faktor-faktor yang terpenting dalam kehidupan manusia itu memang tidak ada sekolahnya. Nggak ada kelasnya. Ngga ada ruang kuliahnya. Nggak ada kurikulumnya. Misalnya, berumah tangga. Nggak ada fakultas rumah tangga. Tidak ada jurusan perkawinan atau pernikahan. Yang ada pendidikan seks. Itupun tidak ada urusannya dengan masalah psikologis dan rohaniah. Apalagi dengan syariat atau akhlak. Jadi rumah tangga nggak ada sekolahannya. Padahal itu setiap orang harus berumah tangga. Kebaikan tidak ada sekolahannya. Padahal setiap orang di perlukan untuk baik. Akhlak tidak ada sekolahannya. Padahal apa jadinya dunia ini kalau orang tidak berakhlak.
Lho apakah di kurikulum-kurikulum sekolah, di pelajaran-pelajaran sekolah, guru-guru, dosen-dosen, para professor tidak pernah menyebut-nyebut, pentingnya ketentraman rumah tangga, kedewasaan suami istri, kebaikan hidup, atau moralitas. Bukan tidak pernah. Tetapi tidak pernah di posisikan secara primer di sekolahan-sekolahan kita. Kebaikan bukan sesuatu yang primer.
Anda seorang sarjana, kemudian mengajar di sebuah universitas. Kemudian anda ketahuan mencuri motor. Anda hanya mendapat hukuman separo. Yaitu anda di pecat dari universitas anda. Itupun belum tentu karena soal moral tapi mungkin karena soal malu. Masak universitas punya dosen curi motor. Tetapi, dosen dan sarjana yang mencuri motor ini, tidak akan pernah di copot gelar kesarjanaannya. Anda professor, anda memperkosa orang, anda tetap profesor. Anda doktor, anda korupsi, anda tetap Doktor.
Betapa lemahnya, legitimasi nilai dari sekolahan-sekolahan, universitas-universitas yang selama ini kita bangga-banggakan.
Delta FM
Posted DTrenggana
Komentar
Posting Komentar