Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2018

JUDGEMENT

JUDGEMENT Secara sadar atau tidak, kita pernah melakukannya, entah secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi alias hanya terbersit dalam hati. Dan tanpa sadar, sebenarnya kalau kita sadar, kita tak ada bedanya dengan mereka yang suka melakukan penghakiman terhadap prilaku seseorang. Ketika kita menilai orang lain begini atau begitu, bukankah hal tersebut kembali lagi terhadap kita sendiri? Iya, jika penilaian itu adalah penilaian yang baik, jika penilaian yang buruk? Dan, belum tentu orang yang kita nilai itu seburuk atau sebaik dugaan kita bukan? Kita hanya melihatnya dari luar, apa yang kita lihat atau dengar melalui mata atau telinga kita. Kita tak punya hak untuk menilai seseorang, cukuplah Allah Swt yang menilai hambaNya. Kita hanya berkewajiban untuk bersikap husnudzan terhadap siapapun atau apapun. Pepatah mengatakan: Don't judge a book from it's cover. Jika ingin menilai seseorang, maka bergaullah dengannya, bertransaksilah dengannya, lihat bagaimana ia menjal...

Egomania

Demokrasi dan “Egomania” Oleh Emha Ainun Nadjib Saya menduga keras bahwa secara ilmu bahasa, istilah “egomania” tampaknya tak bisa dibenarkan. Tetapi, saya tidak sanggup menjumpai idiom lain untuk mewakili apa yang hendak saya jelaskan. Egomania adalah suatu kondisi mentalitas di mana “kosmos kepribadian” seseorang hampir seluruhnya diisi oleh hanya dirinya sendiri. “Dirinya sendiri” itu mungkin lebih gamblang kalau saya sebut egopribadi, atau bahasa umum menyebutnya “interes pribadi”. Idiom yang saya gunakan itu memakai kata “mania” untuk menerangkan kadar kepenuhan interes pribadi itu di setiap sepak terjang seseorang. “Stadium tinggi” egoisme itu membuat orang tersebut tidak lagi memiliki aktivitas sosial, karena setiap perilaku “sosial”-nya sesungguhnya merupakan aktivitas pribadi. Dengan kata lain: seluruh dunia ini, orang lain, lingkungan, fasilitas-fasilitas kehidupan, hanyalah ...

DEBIROKRATISASI PENDIDIKAN

Debirokratisasi Pendidikan Oleh Emha Ainun Nadjib Salah satu persoalan nasional yang akan (dan sebaiknya direkayasa untuk) menjadi isu nasional adalah masalah pendidikan. Proyek Lepas Landas sesungguhnya adalah suatu takabbur sejauh kita menginsafi seberapa borok iklim kependidikan kita selama ini. Tetapi justru karena itu, maka pelaku-pelaku sejarah yang nonpemerintah jadinya memperoleh bukan saja tantangan. Kita tidak bisa “licin” omong soal Lepas Landas selama dunia pendidikan—yang merupakan software infrastrukturnya—masih sedemikian mengalami kejumudan dan stagnasi. Kebobrokan dunia pendidikan kita terjadi pada beberapa dataran. Umpamanya, dataran filosofis: bahwa kita belum mendidik, melainkan baru mengajar. Itu pun belum mengajar berpikir, melainkan menghafalkan, bahkan hingga saat ini kita membiarkan saja kesalahan filosofis dan “ideologis” yang merupakan sumbernya. Atau juga bahwa guru itu atasan dan bukan teman. Bahwa banyak muatan kuriku...

HANARA

[18:55, 8/2/2016] Bu Adi♡: 🍁🐝 Bismillah Alhamdulillah ikut pelatihan di HANARA Bandung ttg arti 1. Ikhlas 2. Nikmati 3. Syukuri 4. Memberi tanpa syarat 5. Bahagia bersama ALHAMDULILLAH Tak ada ruang untuk mengeluh Tak ada ruang untuk berfikir negatif Yg ada hy syukur dan tersenyum 😊 Ikhlas Terhadap semua kejadian Ikhlas Terhadap semua perilaku pembicaraan apapun siapapun (  kecuali kekerasan yg tidak wajar ) Ikhlas thdp semua yg diberikan Allah Baik berupa ayah ibu suami anak mertua saudara tetangga teman kantor dll Yg kadang duluuu terasa bikin stress jengkel tidak terima dll Keluh kesah sakit hati dendam iri dibiarkan menguras energi Kini kehadiran mrk dng sgl kekurangannya Adalah anugerah 🙏 Harus iman Harus yakin Semua kejadian Semua peristiwa Semua yg diberikan Allah adalah yg  TERBAIK Jangan ragu untuk bersyukur *Keep smile* 😊 #Self Reminder