Langsung ke konten utama

DEBIROKRATISASI PENDIDIKAN

Debirokratisasi Pendidikan
Oleh Emha Ainun Nadjib

Salah satu persoalan nasional yang akan (dan sebaiknya direkayasa untuk) menjadi isu nasional adalah masalah pendidikan. Proyek Lepas Landas sesungguhnya adalah suatu takabbur sejauh kita menginsafi seberapa borok iklim kependidikan kita selama ini. Tetapi justru karena itu, maka pelaku-pelaku sejarah yang nonpemerintah jadinya memperoleh bukan saja tantangan. Kita tidak bisa “licin” omong soal Lepas Landas selama dunia pendidikan—yang merupakan software infrastrukturnya—masih sedemikian mengalami kejumudan dan stagnasi.

Kebobrokan dunia pendidikan kita terjadi pada beberapa dataran. Umpamanya, dataran filosofis: bahwa kita belum mendidik, melainkan baru mengajar. Itu pun belum mengajar berpikir, melainkan menghafalkan, bahkan hingga saat ini kita membiarkan saja kesalahan filosofis
dan “ideologis” yang merupakan sumbernya. Atau juga bahwa guru itu atasan dan bukan teman. Bahwa banyak muatan kurikulum yang tidak relevan terhadap tahap usia anak didik, pola pengajaran yang feodalistik dan otoriter. Bahkan, beberapa ahli menggelisahkan betapa filosofi taman kanak-kanak, juga filosofi play group, sudah dirampok oleh “fasisme” birokrasi orang-orang “dewasa”.

Pada dataran perangkat keras-nya, dunia pendidikan kita juga mengidap penyakit kanker yang—diakui atau tidak—mengancam kualitas regenerasi bangsa kita. Kalau Anda cukup rajin mengamati dan coba mengalami situasi-situasi kependidikan dari tingkat atas sampai
terbawah, dari skala lokal hingga nasional, saya yakin Anda sepakat bahwa dunia pendidikan kita makin tidak terlihat sebagai dunia pendidikan itu sendiri.

Dunia pendidikan sudah menjadi bagian yang “inheren” dari mekanisme politik birokrasi, dan mobilisasi. Bersekolah bukanlah mencari ilmu (sekadar menghafalkan pengetahuan tertentu), bukanlah mengolah kreativitas (bahkan, guru acap kali merupakan agen dekreativitas), serta bukan pula menggali dan mengembangkan kepribadian (bersekolah ialah penyeragaman atau penghapusan unikum manusia).

Pada saat yang sama, dunia pendidikan juga sudah menjadi bagian dari proses-proses wadak industrialisasi. Para pengurus pendidikan, dari pejabat Depdikbud hingga sementara guru-guru, adalah semacam tuan tanah dari lahan pertanian modern yang bernama dunia pendidikan. Dari banyak kasus, tecermin bahwa bagi mereka yang penting bukanlah pertumbuhan anak didik, melainkan posisi birokratis mereka
bisa bermanfaat untuk mencari nafkah: perang tender, royokan proyek, jual diktat, dan sebagainya. Atmosfer mental dunia kependidikan tidak berpusat pada dunia pendidikan itu sendiri.

Dalam banyak hal, sesungguhnya kita sedang menabung dosa kepada Tuhan dan anak cucu, padahal belum tentu kita sudah bercucu.

Apa yang bisa dilakukan oleh institusi-institusi sosial, misalnya Muhammadiyah atau NU, dan lain-lain—dalam soal ini—saya kira adalah merintis sungguh-sungguh proses ishlah terhadap dunia kependidikan secara menyeluruh, pada semua dataran.

Sejauh yang saya ketahui, sekolah-sekolah atau perguruan tinggi yang dimiliki oleh umat Islam tidak memiliki iklim yang cukup berbeda dibanding persekolahan pada umumnya—kecuali, sementara “sekolah khusus” seperti pesantren yang tanggap terhadap relevansi zaman dan hari depan. Situasi kependidikan Islam, karena halangan birokrasi dan kultur serta karena lemahnya kekhalifahan umat Islam sendiri di bidang itu—sama memprihatinkannya dengan situasi menyeluruh dunia pendidikan kita.

Semua pihak berkewajiban untuk lebih serius memikirkan hal itu. Di bawah maupun di atas. Dan salah satu alternatif yang mutlak diperlukan adalah upaya pemandirian pendidikan, yang dalam hal tertentu berarti debirokratisasi pendidikan.

Saya kira Anda tahu semua bahwa seorang menteri pun, macam Fuad Hassan, tidak dengan gampang melakukan pembenahan-pembenahan sekecil apa pun, “berkat” jumudnya “mafia birokrasi” di bawahnya.

Yogya Post, 14 Desember 1990.
Posted D.Trenggana

Komentar

Postingan populer dari blog ini

AC

COPAS..... 😁😁😁 Penting nih biar listrik nda boros.. Knpa ac aku nyalain 24 jam dan ngirit ga boros.. Karna aku tau triknya Kamu Harus Tau #wajib baca bagi pengguna AC #8 rahasia tentang penggunaan AC yang perlu kamu ketahui 😗 1.Suhu 26℃ dari AC adalah suhu yang paling tepat, nyaman dan tidak menyebabkan sakit. Meski tubuh manusia sendiri sudah bisa menyesuaikan suhu tubuh, tapi kemampuan tersebut juga ada batasnya. Bila suhu luar dan suhu dalam ruangan berbeda terlalu jauh, kamu pun bisa dengan mudah jatuh sakit. Suhu 26℃ adalah suhu dalam ruangan yang paling cocok, dan suhu ini pun paling membuat AC-mu irit. 2. Saat udara terlalu panas dan lembab, ubah mode AC menjadi "Dry" Saat musim hujan, udara akan terasa lebih panas dan lembab, nah pada saat ini, kamu ahrus mengubah mode AC-mu dari "cool" menjadi "dry". Mode "dry" ini tidak hanya bisa menyerap udara lembab, tapi juga bisa membantumu irit banyak! Saat kamu menyalakan mode "cool...

BUNDA YUNI KISAH KASIHNYA

Saya menemukan tulisan ini baru minggu yl langsung saya share. Sesungguhnya saya sdh menjalankan apa yg ada dlm tulisan ini sdh berpuluh th yg lalu. LUPAKAN CANCER KITA...LUPAKAN...LUPAKAN.... Dan saya lupakan, ya masukkan peti semua medical record dokter. putera saya sampai mengira saya bohong, mana bu medical recordnya? Saya mengambil keputusan " Biarlah dunia menganggap saya bohong, saya tdk akan pernah membuka medical record saya,  saya sdh berusaha melupakan sakit saya dan saya berhasil melupakan ,menidurkan Ca saya dan saya bisa hidup normal dg cinta kasih saya pd Allah yg Maha Penyayang dg memberikan bantuan dan kasih kpd yg membutuhkan, itu urusan saya....bukan urusan Orang lain, putera saya, menantu saya, suami saya bahkan saudara kandung saya... Diusia saya 65th saya masih bisa menikmati indahnya merawat bayi yg dibuang oleh ibunya sendiri, bayi yg lahir tanpa memiliki keluarga kecil apa lagi keluarga besar... Semua orang terdekat saya menentang saat saya menerim...