Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2018

Sosok Cak Nun

Surat Terbuka untuk Mbah Nun Oleh Ikrimah Vella Rianti. 28 Mei 2017 Aku melihat Indonesia di dalam dirimu. Engkau berhasil membesarkan hati Bapak Soeharto untuk berkata “ora dadi presiden ora patheken”--di saat itu pula kamera dan media semakin fokus ke arahmu, namun Kau memutuskan untuk kembali pulang ke rumahmu: bersama rakyat, menyelesaikan persoalan sosial. Terima kasih telah menyadarkanku, bahwa menjadi kewajibanku untuk merangkul pundak dan memijit tangan mereka yang menderita hidupnya. Terima kasih telah menatarku bahwa untuk mengabdi pada negeri tidak harus menunggu menjadi pegawai negeri. Sebetulnya pedih menhistoriografikan hidupmu. Bahkan sempat kesal dengan keputusan “Jalan Sunyi”-mu. Namun siapalah aku berani mendesakmu untuk mengetuk pintu setiap orang, termasuk pintu rumahku. Sadar, layaknya jagung: semakin berisi semakin merunduk. Begitu pun dirimu. Berbagai program televisi ternama mengundangmu menjadi tamu, namun kau tolak. Terima kasih tel...

Monggo Lenggah

```MONGGO LENGGAH CAK``` "Monggo Lenggah Cak" // Silahkan Duduk Cak (bahasa kromo alus Jawa). Begitulah kalimat pertama yang ingin saya sampaikan pada jenengan Cak Nun. Begini Cak? Saya tidak sekaliber Mbah Sudjiwo Sutejo selaku Presiden The Jancuker's, yang dengan renyahnya teriak: "Cak Cuk Cak Cuk" untuk menghibur wajah jenengan yang tampak letih setelah jenengan berotasi selama puluhan tahun dari mimbar ke mimbar yang apik dan sarwo adem ayem itu. Saya ini siapa? Duduk di Majelis Maiyahe jenengan saja tidak pernah. Bukan karena tidak mau tapi tidak berani Cak. Tidak berani menatap wajah jenengan, jujur... Walau sekedar mendengar orasi jenengan secara langsung dari kejauhan saja saya takut. Tapi entah ini akan dipermasalahkan atau tidak sekali lagi saya matur: "Monggo lenggah Cak". Jenengan itu kalo saya panggil Guru kok belum sepadan dengan semua jasa jenengan terhadap anak negeri. Cap capane glugut pinoro pitu, saya ini siapa? Seniman kel...

SOSOK CAK NUN

AKU INGIN MENCIUM KAKI CAK NUN   Oleh Sri Narendra Kalaseba Apa yang perlu saya banggakan lagi Cak?! Ketika mendengar ceramah-ceramah jenengan, bukan saja kebanggaan ini saja yang hilang, bahkan kehormatan saya pun tercerai berai diberangus keburukan diri yang mulai tampak jelas ketika jenengan berorasi. Hasanahmu dalam suatu mimbar, seolah tanpa basa basi lagi satu persatu mutiara demi mutiara kata jenengan secara spontan telah membuat cermin besar dan saya terkondisikan untuk bertelanjang. Lantas sombong, iri, dengki dan bualan merasa suci hingga penyakit sebagai pembenci itu pun tampak nyata disekujur tubuh ini. Ketika itu juga jiwa yang dibaluti rasa malu secara tegas bertanya: "Menungso model opo aku iki Cak?! " (Manusia macam apa aku ini Cak?!). Betapa jenengan begitu sabar, tlaten (komitmen) dan tegas mendidik kami berperang melawan angkaro murkoning pangroso (nafsu sesat yang mengendap dihati). Jenengan semangati kami untuk melibas durjo durjaning berholo murantot...

Emha legitimasi pendidikan

Lemahnya Legitimasi Nilai Pendidikan Oleh Emha Ainun Nadjib Teman-teman sekalian, Assalamualaikum wr wb. Bisa jadi salah satu kemungkinan jawaban kenapa situasi demoralisasi bangsa kita sedemikian parahnya itu karena faktor-faktor yang terpenting dalam kehidupan manusia itu memang tidak ada sekolahnya. Nggak ada kelasnya. Ngga ada ruang kuliahnya. Nggak ada kurikulumnya. Misalnya, berumah tangga. Nggak ada fakultas rumah tangga. Tidak ada jurusan perkawinan atau pernikahan. Yang ada pendidikan seks. Itupun tidak ada urusannya dengan masalah psikologis dan rohaniah. Apalagi dengan syariat atau akhlak. Jadi rumah tangga nggak ada sekolahannya. Padahal itu setiap orang harus berumah tangga. Kebaikan tidak ada sekolahannya. Padahal setiap orang di perlukan untuk baik. Akhlak tidak ada sekolahannya. Padahal apa jadinya dunia ini kalau orang tidak berakhlak. Lho apakah di kurikulum-kurikulum sekolah, di pelajaran-pelajaran sekolah, guru-guru, dosen-dosen,  para professor tidak pernah...

Bubu baba

Sedikit cerita tentang anugerah yang diterima oleh Baba suamiku, Sani Tri Cristian... Pada tanggal 26 Desember 2015, dilakukan operasi untuk mengambil sebagian dari tumor yang berada di otak belakang baba. Setelah di tes, keluarlah hasil PA pada 11 januari 2016. Baba dinyatakan glioblastoma multiforme grade 4. "Glioblastoma multiforme (GBM) adalah tumor otak primer ganas yang paling agresif dan paling sering ditemui, melibatkan sel glia dan bertanggung jawab untuk 52% kasus tumor jaringan otak fungsional dan 20% tumor intracranial" (dikutip dari tinjauan pustaka weebly.com) GBM juga dikenal dengan sebutan tumor gurita..karena bentuknya menyerupai gurita, menjalar ke sela-sela jaringan otak. (Sumber googling) Sejak awal mendapat kurikulum itu, kami ikhtiar dgn segala cara bersamaan..semua jalur yang kami tempuh saling melengkapi membantu mengurangi efek samping dari GBM. Langkah awal tentunya melalui jalur medis, operasi, radiasi dan kemo (kemo hanya bertahan 2 minggu sa...

Tetes Emha 9.2.2018

Manusia adalah lukisan yang tidak patuh kepada pelukisnya. Manusia adalah lukisan yang mengambil keputusan sendiri apa warna yang disukainya, garis, guratan, cuatan dan tekstur yang dinafsuinya. Manusia adalah burung yang nekat menggonggong karena dengan menggonggong lah ia memperoleh keuntungan pribadi. Manusia adalah anjing yang pasang baliho dan poster-poster di mana ia mengumumkan kicauan dan kokoknya, padahal ia bukan burung atau ayam

Puasa by Emha

Gunanya puasa untuk menghormati orang lain Berpuasa sebulan penuh digembleng belajar untuk menghormati orang lain bukan minta dihormati Hanya orang yang tidak terhormat yg minta minta untuk dihormati Subhanallah

AGAMA UNTUK DIYAKINI BUKAN DIPERDEBATKAN

Agama itu untuk diyakini dan dilaksanakan bukan untuk diperdebatkan. NASEHAT YG MENYEJUKKAN disadur dari :  Emha Ainun Nadjib Dalam suatu forum saya bertanya, ”Apakah anda punya tetangga ?” Dijawab serentak, “Tentu punya” “Punya istri enggak tetangga Anda ?” “Yaa, punya doong” “Pernah lihat kaki istri tetangga Anda itu ?” “Secara khusus tak pernah melihat” kata hadirin di forum, “Jari-jari kakinya lima atau tujuh ?” “Tidak pernah memperhatikan” “Body-nya sexy atau enggak ?” Hadirin tertawa lepas. Dan saya lanjutkan tanpa menunggu jawaban mereka, “Sexy atau tidak bukan urusan kita, kan ?" Tidak usah kita perhatikan, tak usah kita amati, tak usah kita dialogkan, diskusikan atau perdebatkan... Biarkan saja. Keyakinan keagamaan orang lain itu yaa ibarat istri orang lain. Ndak usah diomong-omongkan, ndak usah dipersoalkan benar salahnya, mana yang lebih unggul...

Buak buak ....

Astaghfirullahal'adhim alladzi laa ilaha illahuwal hayyul qoyyum wa atubuh ilaih,  Astaghfirullahal'adhim alladzi laa ilaha illahuwal hayyul qoyyum wa atubuh ilaih,  Astaghfirullahal'adhim alladzi laa ilaha illahuwal hayyul qoyyum wa atubuh ilaih. Innallaha malaaikatahu yusholluuna 'alaannabi yaa ayyuhalladzina aamanuu sholluu'alaihi wa sallimuu tasliimaa. Allahumma sholli wa sallim wa barik'alaih. Sampeyan dungo kabeh, sampeyan dungo kabeh, nang jero ati sampeyan dungo kabeh, njalok, wes gak onok seng iso ngatasi nek mboten Gusti Allah, Mboten enten seng saget sampeyan jaluki kejoboh Gusti Allah, mboten enten seng saget sampeyan sambati kejoboh Gusti Allah kalean Kanjeng Nabi seng kerso maringi syafa'at. monggo atine kosentrasi, lalekno liyan-liyane, buak'en-buak'en teko atimu seng elek-elek buak'en, buak'en kabeh, buak'e, percoyo'o-percoyo'o nek jero atimu mek onok Allah karo Rosulullah wes beres masalahmu beres, anakmu men...

One Moment in Time

One Moment In Time | Whitney Houston *Each day I live I want to be* Tiap hari dalam hidupku ku ingin rasakan *A day to give the best of me* Suatu hari tuk diberikan yang terbaik dariku *I'm only one but not alone* Aku memang satu tapi tidak sendiri *My finest day is yet unknown* Hari terindahku belum diketahui *I broke my heart, fought every gain* Aku patah hati, terus berjuang *To taste the sweet I face the pain* Tuk rasakan manis kuhadapi getir *I rise and fall, yet through it all* Aku jatuh bangun. namun melalui semua itu *This much remains* Harapan itu tetap ada CHORUS *I want one moment in time* Kuinginkan saat-saat istimewa *When I'm more than I thought I could be* Saat aku lebih daripada yang kupikirkan *When all of my dreams are a heartbeat away* Saat semua mimpiku hampir tergapai *And the answers are all up to me* Dan jawabannya tergantung padaku *Give me one* moment in time Berilah saat-saat istimewa *When I'm racing with destiny* Sa...

10 SIKAP HIDUP BAHAGIA

SEPULUH SIKAP HIDUP BAHAGIA Oleh : Mahatma Gandhi. 1. Lepaskanlah rasa kuatir dan ketakutan. Ketakutan dan kekuatiran hanyalah imajinasi pikiran akan suatu kejadian di masa depan yang belum tentu terjadi. Kebanyakan hal-hal yang dikuatirkan dan takutkan tak pernah terjadi ! _It's all only in your mind._ 2. Buanglah dendam. Dendam dan amarah yang disimpan hanya akan menyedot energi diri dan hanya mendatangkan kelelahan jiwa. Buanglah. ‎ 3. Berhentilah mengeluh. Mengeluh berarti selalu tidak menerima apa yang ada saat ini. Secara tak sadar membawa-bawa beban negatif.. ‎ 4. Bila ada masalah, selesaikan satu per satu. Hanya inilah cara menangani setiap : satu demi satu.. ‎ 5. Tidurlah dengan nyenyak. Semua masalah tidak perlu dibawa tidur. Hal tersebut buruk dan tidak sehat. Biasakanlah tidur dengan nyaman. ‎ 6. Jauhi urusan orang lain. Biarkan masalah orang lain menjadi urusan mereka sendiri. Mereka memiliki cara sendiri untuk menangani setia...

ROBBI GANDAMAA

CAK NUN SANG PAWANG BANGSA Suatu kali Cak Nun bilang, "Setiap orang harus bunuh diri!" O_O. Orang yang tidak paham bahasa sastra tentu bingung jaya, "Maksude opo Ndes!?" Ternyata maksudnya, setiap orang harus membunuh dirinya yang sekarang untuk menjadi dirinya yang baru. Seperti bayi yang baru lahir. Jadi bukan bunuh diri dalam arti yang sesungguhnya. Itu sebenarnya konsep ruwatan dalam budaya Jawa. Itu lah Cak Nun, petuahnya selalu membuat orang takjub, koyok dikampleng mubeng tapi nggak iso mbales. Dua kali saja mengikuti pengajiannya, kamu bakalan merasa nggak masuk akal dengan hidupmu. Karena akalnya tinggi, di atas rata-rata layaknya orang kebanyakan. Maka rugi besar kalau ada yang benci atau menjauhi Cak Nun hanya karena tokoh idolanya atau Ormas-nya diolok-olok Cak Nun. Karena dia sebenarnya kehilangan kesempatan mendapatkan ilmu yang tidak pernah didapatkan di guru-guru konvensional. Membesar-besarkan secuil kesalahan, tapi melupakan sebongkah kebenaran ...

Emha

Kasan Kusen Oleh Emha Ainun Nadjib* SESUDAH dibantai dengan jenis kekejaman yang sukar dicari tandingannya dalam peradaban umat manusia, penggalan Sayidina Husein putra Fatimah putri Muhammad Rasulullah SAW diarak, diseret dengan kuda sampai sejauh 1.300 kilometer. Wallahua’lam, ada yang bilang dibawa sampai ke Mesir, yang lain bilang ke Syria –sebagaimana ada beberapa makam Sunan Kalijogo di Pulau Jawa– tapi pasti pembantaian sesama muslim itu terjadi di Karbala. Orang yang mencintai beliau bisakah menangis hanya dengan mengucurkan air mata, dan bukan darah? Jutaan pencintanya memukul-mukul dada mereka agar terasa derita itu hingga ke jantung dan menggelegak ke lubuk jiwa. Ribuan lainnya membawa cambuk besi atau apa saja yang bisa melukai badan mereka agar kucuran darah itu membuat mereka tidak siapa pun kecuali Imam Husein sendiri. Orang yang mencintai melarutkan eksistensinya, melebur, hilang dirinya, dirinya sirna, menjadi orang yang dicintainya. Keperihan maut...