Surat Terbuka untuk Mbah Nun Oleh Ikrimah Vella Rianti. 28 Mei 2017 Aku melihat Indonesia di dalam dirimu. Engkau berhasil membesarkan hati Bapak Soeharto untuk berkata “ora dadi presiden ora patheken”--di saat itu pula kamera dan media semakin fokus ke arahmu, namun Kau memutuskan untuk kembali pulang ke rumahmu: bersama rakyat, menyelesaikan persoalan sosial. Terima kasih telah menyadarkanku, bahwa menjadi kewajibanku untuk merangkul pundak dan memijit tangan mereka yang menderita hidupnya. Terima kasih telah menatarku bahwa untuk mengabdi pada negeri tidak harus menunggu menjadi pegawai negeri. Sebetulnya pedih menhistoriografikan hidupmu. Bahkan sempat kesal dengan keputusan “Jalan Sunyi”-mu. Namun siapalah aku berani mendesakmu untuk mengetuk pintu setiap orang, termasuk pintu rumahku. Sadar, layaknya jagung: semakin berisi semakin merunduk. Begitu pun dirimu. Berbagai program televisi ternama mengundangmu menjadi tamu, namun kau tolak. Terima kasih tel...