Intropeksi Antara Kehendak Ilahi Dan Nafsu
Oleh Emha Ainun Nadjib
Salah satu kelemahan orang Islam adalah tidak bisa menaklukkan kehendak pribadi yang nyaris mendeteksi nafsu. Saya menjadi sastrawan, saya menjadi saya seperti yang anda kenal adalah bukan kehendak saya.
Saya tidak mau menghabiskan waktu hanya untuk mengikuti kehendak pribadi.
Kalau menurut kehendak saya, waktu tidak akan pernah cukup.
Kalau kemauan saya cari hiburan, menjadi sarjana, presiden atau yang enak-enak lainya.
Seluruh kehendak saya datang dari luar kehendak pribadi (Allah).
Saya harus menciptakan suatu metabolitas supaya yang datang menyentuh saya hanya kehendak-kehendak yang baik, kalau kehendaki yang buruk semoga tidak menimpa saya, entah orang yang punya maksud tidak baik, pemerintah, ilmuwan atau pihak berwajib lainya.
Saya berdo’a kepada Allah semoga kehendak buruk tersebut menjauhi saya.
Jadi hidup ini saya penuhi untuk, perama, menggalai kepekaan terhadap “maadza arooda allahu ilaiyya” (apa yang Allah kehendaki terhadap diri saya).
Dengan ini Allah memberi potensi dan wasilah yang beraneka ragam.
Dibalik itu semua, Allah pasti memberi amanat, “maadza arooda allahu ilaikum. . .” itulah pekerjaan saya yang nomor satu.
Dalam surat Yasin (36) ayat 82, Artinya :
“Sesungguhnya keadaan-Nya (Allah) apabila Dia menghendaki sesuatu, lalu Dia berkata ‘jadi’ maka jadilah ia”.
Nomor pertama, “Amru” atau amanat (Innama Amruuhu), ketiga Qoulullah (Yaqulullahu), dan keempat adalah efeknya : jadi! (kun!), dan sebagai konsekwensi atau akibatnya adalah jadilah (Fa yakun) sedang Irodah atau kehendak Allah itu unsur kedua.
Maka saya tidak berani berkehendak kalau tidak yakin bahwa kehendak itu berangkat dari Innama Amruhu, sebab sehebat-hebatnya kehendak saya, misalnya : ingin jadi presiden, orang terkenal dan lain sebagainya, kalau tidak berangkat dari “Amruhu” tadi, maka hasilnya tidak maksimal.
Ya . . . mungkin anda bisa mencapai apa yang dikehendaki, tetapi hanya sebatas hanya yang kehendakai saja, karena anda lebih percaya pada kehendak anda.
Kalau amanat Allah, lho . . . kok ana tidak percaya pada amanat Allah . . .?!.
Siapa yang nomor satu dalam hidup anda.
Kalau tidak menomorsatukan Allah berarti anda tidak percaya ”Qul Huwahhalu Ahad”, anda tidak beriman kan . . . ?!.
Jadi tugas muslim yang pertama adalah mengetahui apa yang Allah kehendaki terhadap diri mereka.
Kalau itu yang anda jalankan, dan ketemu, maka anda akan mendapatkan kehendak Allah tersebut berlipat ganda, buktinya sekarang saya sampai kekurangan waktu untuk menulis ayat-ayat Allah di koran-koran, di majalah-majalah, dan di buku-buku lain-lainya.
Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 261, Artinya :
“Dan setiap ranting terdapat seratus buah”
Kalau saya bercita-cita jadi sastrawan, paling jadi sastrawan, gampang sekalikan. .!
Aku tak perlu mengurusi sekolah, ummat Islam, rapat akbar NU, kesenian, Abdurrahman Wahid, dan kalau saya bercita-cita ingin menjadi Ulul Albab, paling jadi begitu saya.
Saya nggak tahu puisi, nggak bisa ketemu anda (Tim Ekspedisi 8 Windu Darussalam Pos), nggak ketemu TERISDA (Teater Islam Darussalam).
Saya nggak pernah mengandalkan kehendak saya, maka nggak heran kalau sekarang kerepotan dikarenakan banyaknya amanat Allah yang tidak dijalankan 99% umat manusia, karena mereka hanya menjalankan hawa nafsu mereka masing-masing.
Jangan disangka bahwa bercita-cita jadi ini, jadi itu bukan hawa nafsu . . .!
Biasanya, orang modern menyuruh anaknya jadi kyai, dokter atau yang lainya. Itu nafsu.
Ibarat orang masuk hutan, ia hanya mengambil kayu jati saja. Kalau ketemu besi, maka besi itu dibiarkan saja.
Tapi lain halnya dengan saya. Saya masuk hutan dikarenakan amanat Allah (Amruhu), saya disuruh menyuruh hikmah apa saja yang ada di dalamnya, apapun saya temui di hutan tersebut adalah hikmahnya.
Kalau ketemu rumput saya syukuri, saya nikmati, dan saya pelajari.
Akhirnya saya bisa ketemu semuanya.
Kalau anda masuk hutan hanya untuk mencari kayu jati, lalu tersentuh besi anda tidak menoleh.
Sama saja kalau anda mencari uang, lain halnya kalau mencari amal, anda akan mendapat uang, kehormatan, karomah, dapat pergaulan dan lainya.
Seperti orang Cina yang mencari uang, disamping itu mereka juga mendapat kebencian dari orang lain dan memperoleh dosa.
Bukan berarti saya menyuruh anda menarik cita-cita masing-masing, tapi jangan lupa bahwa Allah itu mempunyai kehendak yang sangat baik terhadap diri anda.
Kalau anda sekolah di tempat saya, maka soal pertama yang saya lontarkan adalah :”maadza arooda allahu ilaika . . .?”
(Apa yang Allah kehendaki terhadap diri anda . . .?) kalau anda menjawab “liya’bud” (untuk menyembah) itu yang abstraknya, tapi apa sebenarnya yang dimaksudkan menyembah di sini, apakah jadi petani, sastrawan, penulis puisi . . .?
Mencari kehendak Allah itulah yang merupakan perjalanan yang panjang, sunyi, penuh liku-liku yaitu berjalan dalam diri sendiri.
Selama ini anda di didik untuk menuju perjalanan melalui luar diri anda, punya ini, punya itu, anda pikir itu semua alat untuk mencapai kebahagiaan anda . . .?
Padahal kebahagiaan itu tidak bisa diwakili dengan itu semua (Harta kekayaan, tahta, wanita, dll).
Banyak orang yang mencari Allah melaui jalan luar diri mereka, baca buku tentang konsep ketuhanan, teologi, filsafat, wah . . . banyak sekali . . .!
Mereka fikir Allah ada dalam buku-bku tersebut.
Tidak begitu, tapi yang sebenarnya ada di dalam diri anda sendiri, kalau anda sangat paham dengan ayat yang sering diucapkan di muhadloroh pada surat Al-Kahfi (18) ayat 109,Artinya :
Katakanlah : “Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menuliskan) perkataan-Ku, niscaya keringlah laut tersebut sebelum habis perkataan Tuhan sekalipun. Kami datangkan tinta sebanyak itu lagi sebagai tambahan”.
Selama di Gontor anda menyangka ilmu nun jauh di sana.
Tidak begitu, yang benar adalah : “Lau Kaana al-Bahru Midaadan Likalimaati Robbii Ji’na Bimitslihi Madada”.
Karena kalau anda sudah sampai di situ, tahu “maadza arooda allahu ilaikum” (apa kehendak Allah terhadap anda).
Maka terbukalah semua dasar ilmu Allah, walaupun anda tidak bisa melihat seluruhnya, anda bisa melihat “Kalimata Robbi” sehingga tidak cukup waktu, koran, majalah, untuk menulisnya (Kalimatu Robbi), karena kalimatu “Rabbi” itu luar biasa banyaknya, oleh karena itu Al-Ghazali mengatakan bahwa harta dengan ilmu bertentangan, kalau ilmu anda yang dijaga, sedangkan harta anda yang menjaganya, maka saya bilang fasal nomor satu ialah “Anta ‘rifuu Maadza Arooda Allahu Ilaikum” (apa kehendak Allah terhadap anda), itu artinya menuntut ilmu.
Selama ini banyak yang menyangka ilmu itu hanya ada di bangku sekolah dan perguruan tinggi saja. Itu semua betul.
Tapi bukan jalan satu-satunya, saya sendiri bisa membuktikannya (tidak melalui bangku sekolah).
Silahkan anda buat ring antara saya dengan kaum ilmuwan.
Bukan saya mau berbesar diri, tapi saya mau membuktikan bahwa apa yang saya katakan itu benar.
Arsip.
Posted DTrenggana
Komentar
Posting Komentar