Langsung ke konten utama

EMHA AGAMA NASI DAN KEBODOHAN

Agama, Nasi dan Kebodohan
Oleh Emha Ainun Nadjib

Agama itu mata air kebenaran, tetapi sangat banyak manusia mungkin tidak sungguh-sungguh mempercayai itu. Sangat banyak manusia, baik sebagai pribadi maupun selaku komunitas, dalam perilaku sehari-harinya maupun dalam kebutuhan dan pilihan-pilihan politik, sosial, ekonomi dan kebudayaannya—tidak menunjukkan tanda-tanda serius bahwa mereka mempercayai agama.

Kenyataan itu bisa jelas anda jumpai dalam hal ke mana kehidupan masyarakat kita diarahkan, bagaimana politik dan ekonomi diselenggarakan, atau bagaimana prinsip-prinsip kognisi kehidupan dipetakan: nilai-nilai agama diletakkan marginal dan ‘ilustratif’, bahkan seringkali diperlukan sekadar untuk memanipulasi-manipulasi. Dengan kata lain: agama difungsikan tidak dalam identifikasi terhadap pencarian kebenaran. Seringkali orang lebih mencari pembenaran dibanding kebenaran.

Yang secara khusus merupakan ‘tugas’ saya untuk menuliskannya di sini adalah—dengan sumber kenyataan di atas—betapa gerakan penyebaran agama juga cenderung tidak identik dengan sosialisasi nilai-nilai kebenaran.

Agama, atau ‘yang disebut agama’, disebarkan untuk motivasi-motivasi yang sangat duniawiah: rekruitmen massa, kekuasaan global atas peradaban umat manusia, gengsi korps, pengembangan kekuatan politik, kekuasaan sosial, serta dengan demikian juga kekuatan kebudayaan. Itu semua jauh, atau bahkan bisa berlawanan, dengan fungsi dakwah yang sesungguhnya, yakni menemani dan mengantarkan manusia memasuki kebenaran yang sebenar-benarnya.

Di sangat banyak tempat, orang-orang dan lembaga-lembaga penyebaran agama memanfaatkan kemiskinan dan kebodohan untuk mengintervensikan apa yang mereka sangka kebenaran agama. Kalau perlu dengan mengaktifkan kaum renternir: orang-orang yang setelah sekian bulan atau sekian tahun terjerat utang gila rentenir tak bisa lagi mengatasi keterjerumusannya. Maka sang penyebar agama datang ‘menolong’ dan berkata lembut: “Ibu dan Bapak kami bebaskan dari utang, kami akan bayar kepada rentenir itu berapa pun saja. Dan karena itu masukilah kebebasan dan kasih…”.

Artinya, dia bebas dari utang dengan syarat sekian ratus cara, taktik dan strategi makro-mikro yang dijalankan untuk proyek yang disebut ‘menyebarkan agama’.

Orang-orang miskin ditawari uang dan makanan. Anak-anak yang belajar dalam kemiskinan dan kejumudan diiming-imingi uang dan roti. Gurunya marah-marah. Pendidik agama ini berkelahi melawan sang pendatang penyebar agama, lantas aparat keamanan menyalahkan—justru sang pendidik agama lokal.

Terdapat suatu psikologi politik yang berkaitan dengan peta kekuatan dan kepentingan ekonomi-politik nasional dan internasional yang membuat ‘si guru lokal’ selalu dianggap salah dan dituduh ‘SARA’, sementara ‘si pendatang’ selalu dianggap benar dan terancam oleh ‘SARA’.

Situasi itu dipertegas oleh kondisi mualaf yang konstan di kalangan ‘kaum miskin’ yang menjadi korban tersebut. Para pemimpin mereka bertengkar satu sama lain, tidak kunjung merasa perlu mengorganisir kekuatan-kekuatan sendiri serta sibuk sentimen sana sentimen sini untuk hal-hal yang amat sepele.

Memang ada satu ‘rumus’ bahwa orang yang berpindah agama dari X ke Y selalu hanya yang miskin dan bodoh dan mualaf, sementara jika terjadi perpindahan sebaliknya—dari Y ke X—biasanya hanya terjadi pada yang kaya dan pandai. Rumus-rumus itu seolah-olah mencerminkan ‘kebenaran sejati’ yang kaya dan sampai hari ini belum bisa dilihat dan dipahami atau dinilai oleh kacamata mana pun, termasuk kacamata orang-orang yang memeluk agama kebenaran sejati itu. Akan tetapi yang menjadi pusat persoalan di sini adalah sangat lemahnya antisipasi pihak yang dirugikan itu, tak kunjung terbangunnya suatu kesadaran, komitmen dan solidaritas untuk bersama-sama merawat bangunan-bangunan kebenaran sejati itu.

Friksi antar ‘agama’ telah makin membengkak di segala sektor dan di hampir semua lapisan. Tak hanya di lapisan masyarakat umum, tapi juga di kantor-kantor birokrasi, di kampus, bahkan juga di tubuh militer. Intervensi seperti yang saya sebut di atas telah makin berlangsung dalam strategi yang ragam dan komprehensif, menggunakan hampir segala cara, bahkan menunggangi keberlangsungan sistem-sistem pembangunan.

Tapi sangat banyak orang dari ‘pihak yang dirugikan’ tidak mempercayainya. Terlebih tak percaya lagi bahwa ‘urusan agama’ ada terkait dengan keberlangsungan pembangunan, KB, kesenian, ilmu pengetahuan, pabrik rokok, dan lain sebagainya.

Sangatlah saya maklumi jika kesadaran dan pemikiran ‘strategi empiris’ mereka tidak semakin peka terhadap gejala itu. Sebab bahkan pun di dalam bidang akidah saja landasan-landasan pemahaman mereka sering rapuh.

Orang tidak tahu dan tidak pernah merasa tahu bahwa ada beda serius (menyangkut pertanggungjawaban di hadapan Allah) antara agama dengan ‘agama’. Ada beda tidak main-main antara ‘buatan Allah’ dengan ‘bikinan manusia’.

Siapakah yang punya otoritas menciptakan agama?

Allah

Siapa yang memberi nama kepada agama?

Allah

Kepada berapa banyak agama, Allah menciptakan dan memberi nama? Adakah Allah Yang Mahasatu menciptakan banyak agama lantas hanya mengakui dan meridhai satu belaka? Itu curang namanya.

Bahkan kalau kelak anda menemukan metodologi sejarah dan antropologi untuk melacak benang merah teologi dalam kurun hidup umat manusia, anda insya Allah akan berjumpa hanya dengan Allah yang Ahad dan agama yang juga hanya ahad.

Kalau yang namanya agama ‘boleh’ diciptakan oleh manusia dan diberi nama oleh manusia, maka cukup ia kita namakan gerakan kebudayaan atau klompencapir.

Amanah, September 1990.
Posted by DTrenggana

Komentar

Postingan populer dari blog ini

AC

COPAS..... 😁😁😁 Penting nih biar listrik nda boros.. Knpa ac aku nyalain 24 jam dan ngirit ga boros.. Karna aku tau triknya Kamu Harus Tau #wajib baca bagi pengguna AC #8 rahasia tentang penggunaan AC yang perlu kamu ketahui 😗 1.Suhu 26℃ dari AC adalah suhu yang paling tepat, nyaman dan tidak menyebabkan sakit. Meski tubuh manusia sendiri sudah bisa menyesuaikan suhu tubuh, tapi kemampuan tersebut juga ada batasnya. Bila suhu luar dan suhu dalam ruangan berbeda terlalu jauh, kamu pun bisa dengan mudah jatuh sakit. Suhu 26℃ adalah suhu dalam ruangan yang paling cocok, dan suhu ini pun paling membuat AC-mu irit. 2. Saat udara terlalu panas dan lembab, ubah mode AC menjadi "Dry" Saat musim hujan, udara akan terasa lebih panas dan lembab, nah pada saat ini, kamu ahrus mengubah mode AC-mu dari "cool" menjadi "dry". Mode "dry" ini tidak hanya bisa menyerap udara lembab, tapi juga bisa membantumu irit banyak! Saat kamu menyalakan mode "cool...

BUNDA YUNI KISAH KASIHNYA

Saya menemukan tulisan ini baru minggu yl langsung saya share. Sesungguhnya saya sdh menjalankan apa yg ada dlm tulisan ini sdh berpuluh th yg lalu. LUPAKAN CANCER KITA...LUPAKAN...LUPAKAN.... Dan saya lupakan, ya masukkan peti semua medical record dokter. putera saya sampai mengira saya bohong, mana bu medical recordnya? Saya mengambil keputusan " Biarlah dunia menganggap saya bohong, saya tdk akan pernah membuka medical record saya,  saya sdh berusaha melupakan sakit saya dan saya berhasil melupakan ,menidurkan Ca saya dan saya bisa hidup normal dg cinta kasih saya pd Allah yg Maha Penyayang dg memberikan bantuan dan kasih kpd yg membutuhkan, itu urusan saya....bukan urusan Orang lain, putera saya, menantu saya, suami saya bahkan saudara kandung saya... Diusia saya 65th saya masih bisa menikmati indahnya merawat bayi yg dibuang oleh ibunya sendiri, bayi yg lahir tanpa memiliki keluarga kecil apa lagi keluarga besar... Semua orang terdekat saya menentang saat saya menerim...