Langsung ke konten utama

EMHA AGAMA DAN PERIBAHAN SOSIAL

Agama dan Perubahan Sosial
Oleh Emha Ainun Nadjib

Agama sedang digadang-gadang untuk berperan memperbaiki peradaban masa depan ummat manusia. la ibarat pelita kecil di sayup-sayup abad ke-21 yang dituntut untuk menjanjikan sesuatu sejak sekarang. Kecemasan para pakar pemerhati sejarah terhadap hampir seluruh evil product bidang-bidang politik, ekonomi, budaya serta semua muatan perilaku sejarah umat manusia, akhimya diacukan kepada kemungkinan peran agama.

Tulisan ini sekedar permintaan interupsi sesaat, yang penawaran tesisnya amat bersahaja. Sebaiknya kita tidak usah terlalu tergesa-gesa memperpanjang pembicaraan tentang apa yang didorongkan oleh agama terhadap proses perubahan sosial, sebelum kita benahi dahulu dasar filosofi, epistemologi, atau bahkan “sekadar” struktur logika kita dalam memahami Agama.

Pada akhirnya ini mungkin “sekadar” persoalan tetapi saya tidak bisa berhenti pada anggapan demikian. Saya tidak pemah sanggup mengucapkan kata “Agama berperan dalam ..,”. Saya hanya bisa menjumpai agama sebagaimana kayu, atom, biji besi, dedaunan atau anasir alam lainnya: ia tidak bisa menjadi subjek.

Agama harus tidak berasal dari nabi, murid-murid nabi, ulama, ruhaniawan, pujangga atau jenis cerdik-cendekia macam apapun. Agama hanya mungkin disebut agama apabila ia sepenuh-penuhnya merupakan hasil karya Tuhan—lepas dari kenyataan bahwa kita boleh mempertengkarkan secara metodologis mengenai bagaimana sesuatu itu absah dianggap sebagai hasil karya Tuhan.

Agama yang mungkin sah disebut agama apabila berasal dari Tuhan, dan bukan kebetulan bahwa Tuhan tidak pernah memerintahkan kepada agama untuk berperan apapun dalam kehidupan manusia. Yang menerima perintah adalah manusia, dan Tuhan telah memberinya fasilitas-fasilitas untuk menjalankan perintah itu. Sedangkan agama tidak memiliki akal sebagaimana manusia. Agama tidak akan dimasukkan ke sorga ataupun neraka. Agama adalah makhluk Tuhan yang sama sekali berbeda dari manusia. Agama itu pasif, manusia itu aktif. Agama tidak memiliki kewajiban, tidak punya hak dan tidak dibebani tanggung jawab apapun.

Dengan logika pemahaman seperti ini seorang ahli tidak mungkin bisa mengatakan—umpamanya—“Agama tidak cukup untuk menangkal kenakalan remaja …”. Yang tidak cukup, dan senantiasa relatif dan polemis, adalah tafsir manusia terhadap agama.

Manusia Sebagai Subjek

Jadi, permasalahan ini sangat jauh lebih dari sekadar “soal bahasa” atau “soal istilah”. Dengan demikian agama pun bukan hanya tidak bisa berperan apa-apa terhadap proses kemajuan kehidupan manusia: ia memang sama sekali tidak dilahirkan untuk itu. Manusialah subyek yang harus bergerak, bekerja dan bertanggungjawab. Manusia pula yang maju atau mundur, yang untung atau rugi. Agama sendiri tidak memiliki hakikat untuk maju atau mundur, untuk untung atau rugi. Kalau seluruh ummat manusia berduyun-duyun meninggalkannya, Agama “”tenang-tenang saja”, tidak rugi sesuatu apa.

Oleh karena itu kalau harus berbicara tentang Agama, saya selalu merasa harus mengambil jarak yang setepat-tepatnya dan sejernih-jernihnya dari pemahaman tentang agama yang dikenal dalam ilmu-ilmu sosial. Ibu kelahiran ilmu sosial adalah realitas sosial, sedangkan agama bukan kenyataan sosial. Jika ada dimensi dalam realitas sosial yang disebut agama, yang dimaksud sesungguhnya adalah upaya terbatas manusia dalam mewujudkan nilai-nilai yang diambilnya dari agama.

Sedangkan agama itu sendiri, sekali lagi, sama sekali bukan hasil karya manusia, bukan produk kebudayaan, sehingga segala sesuatu yang berasal dari hasil upaya atau rekayasa manusia, sejauh-jauhnya hanya bisa disebut manifestasi agama.

Agama berbeda dari manifestasi agama, seperti halnya matahari berbeda dari cahaya matahari, atau seniman berbeda dari karya seni atau dari rahasia alam rohani yang menjadi sumber lahirnya karya seni.

Dalam hal ini saya sangat terikat oleh common sense: bahwa manusia tidak memiliki otoritas untuk menciptakan agama, memberi nama kepadanya, serta menentukan muatan nilai-nilainya; lepas bahwa kita bisa kekal memperbantahkan metode apa yang paling absah untuk menentukan apakah suatu firman, umpamanya, itu berasal dari Allah langsung atau tidak.

Katakanlah ini barangkali sekadar sikap pribadi: jika ada agama berasal dari manusia, saya tidak akan pernah bersedia menganutnya. Saya tidak percaya kepada manusia jenis apapun untuk bisa membimbing saya dalam hal-hal yang menyangkut kebahagiaan, kesejatian, keabadian dan lain sebagainya.

Akan tetapi kalau saya tidak menggunakan “pengertian agama secara sosiologis”, tidak berarti saya lantas memakai “pengertian agama menurut agama itu sendiri”. Yang bisa saya pakai hanyalah pemahaman atau tafsir saya atas agama menurut Yang Membuat Agama itu sendiri.

Analoginya barangkali seperti bunyi kokok ayam: Apa bunyi kokok ayam? Setiap orang menirukan bunyinya, merefleksikannya berdasarkan cita rasa dan pola ungkap musikalnya. Adapun bunyi kokok ayam itu ya bunyi kokok ayam: kalau ayam ditanyai apa bunyi kokoknya, ia cukup berkokok saja, dan sampai kiamat kita memperdebatkan hasil pendengaran kita atas bunyi kokok ayam itu.

Pada level teoretis, agama memuat segala sesuatu yang terbaik yang diperlukan manusia untuk mengolah tujuan-tujuan hidupnya. Agama menyediakan demokrasi, etos kerja, kearifan, moralitas serta apa saja yang dibutuhkan oleh manusia dalam mempergaulkan dirinya dengan tanah, tetumbuhan, seluruh unsur alam, sesama manusia, cita-cita kebahagiaan dan kesejahteraan, juga manajemen keadilan, cinta dan kebenaran.

Namun dalam level kasunyatan (realitas), agama telah dihinakan oleh kebodohan manusia, direduksi oleh kepentingan subjektif manusia, bahkan diubah wajahnya menjadi faktor sejarah yang merepotkan dan menjadi sumber peperangan.

Agama dirancukan dengan organisasi sosial atau gerakan kebudayaan. Tidak sedikit orang berkata, meyakini, dan memperbuat agama, padahal yang dimaksud sesungguhnya hanyalah sangkaan terhadap sesuatu yang mereka anggap agama.

Menemukan Kehadiran Agama

Agama bahkan dipersempit menjadi mata kuda politik atau primordialisme formalistik. Keluaran maksimalnya adalah menjadi blunder atau ranjau dalam proses perdamaian dan keadilan. Keluaran minimalnya adalah bahwa ia dieksploitasikan untuk melegitimasi kepentingan-kepentingan yang sempit dan sepihak dari polarisasi kelompok-kelompok dalam sejarah manusia.

Karena keterjajahan politik, ekonomi dan kebudayaan pada sementara bangsa-bangsa Asia, beberapa abad mutakhir ini agama terkikis dan dijadikan sekadar sebagai alat pelarian psikologis, dijadikan simbol dekadensi kultur, sementara perwujudannya di bidang politik terbelah dua: pertama, dijadikan pisau fasisme, kedua, dijadikan legitimasi dan tradisi hipokrisi.

Islam misalnya, dimiskinkan—di dalam pemahaman para pemeluknya, tidak di dalam diri Islam itu sendiri—menjadi makhluk yang hampir bertentangan dengan bagaimana Sang Pencipta Islam itu sendiri memahami ciptaan-Nya. Pemiskinan itu tidak berlangsung hanya pada level interpretasi, pemaknaan dan penerjemahan sosiokulturalnya, tetapi bahkan berlangsung pada tahap yang paling harfiah. Ada beribu contoh, tapi bahwa arti literer kata “Islam” itu sendiri sudah membias amat jauh.

Di dalam kenyataan sejarah, tatkala alam pikiran dan alam perilaku manusia telah sedemikian jauh mengalami pemiskinan dari apa yang secara potensial sebenarnya bisa digali dari agama, pertanyaan-pertanyaan yang kita ajukan biasanya mengandaikan bahwa agama adalah sebuah “kotak” yang disepadankan esensi, eksistensi dan fungsinya dengan, umpamanya, “kotak-kotak” lain yang bernama kekuatan ekonomi—politik, akumulasi kapital, investasi, dan eksploitasi sumber daya alam. Kita lantas mengasumsikan bahwa taktor ekonomi dan politik adalah kekuatan yang kita anggap paling progresif dalam mendorong perubahan-perubahan zaman. Kemudian kita melakukan komparasi dan berkesimpulan bahwa agama hanya kekuatan marginal.

Kita memahami ekonomi, politik dan agama, sebagaimana kita memilahkan kacang, kedelai dan jagung. Ilmu sosial melihat bahwa ada sebuah “rumah” kehidupan dengan bilik politik, bilik agama, bilik kultur, bilik hukum, bilik ekologi dan seterusnya. Agama tidak dipandang sebagai tawaran nilai-nilai, semacam muatan untuk batin (ruhani dan intelek) untuk ditolak atau dipakai oleh penghuni “rumah” tersebut, serta memberinya gagasan bagaimana memperlakukan atau mengatur bilik-bilik tersebut.

Saya kira akan tiba zaman di mana orang tidak lagi mengatakan bahwa “bercocok tanam itu pertanian, shalat itu agama”: pemahaman semacam itu telah memasuki ambang dekadensinya.

Jika seseorang menanam pohon, menyiraminya dan memelihara kesuburan tanahnya—perbuatannya itu didorong oleh salah satu muatan yang dikandung agama, atau bersifat religius—terlepas dari apakah orang tersebut menyadarinya atau tidak, mengakuinya atau tidak, menyebutnya demikian atau tidak.

Agama bukan ritus-ritus dan simbol-simbol. Ritus dan simbol adalah ungkapan budaya atas ruhani muatan agama. Sebagaimana kata-kata bukanlah puisi, kata-kata hanyalah alat untuk mengantarkan puisi. Alat atau bahasa mengungkap puisi sama sekali tidak bisa diidentikkan dengan puisi itu sendiri.

Agama ditemukan orang kehadirannya tatkala mencangkul tanah dengan ketakjuban kepada keagungan Allah. Ketika menatapi hutan belantara, keremangan senja dan hamparan bintang-bintang, dengan kekaguman kepada daya keindahan-Nya, ketika berdagang dalam kesadaran akan titik pusat hidup yang bernama Allah. Juga ketika menjalankan politik, ekonomi, hukum, organisasi, gerakan teknokrasi, negara, klub, laboratorium, proyek-proyek, memancing, berolah raga, bersenggama, dan apa saja, dengan keberangkatan dan orientasi titik pusat kehidupan tersebut.

Dengan demikian, saya tidak bisa memakai suatu kerangka keilmuan yang menyebut, misalnya, faktor ekonomi atau politik adalah non agama. Yang hidup dalam pengertian saya: apakah berpolitik, berekonomi, bersuami istri, dan lain sebagainya adalah beragama atau tidak.

Sangat sederhana.

Suara Merdeka, 30 November 1992
Posted DTrenggana

Komentar

Postingan populer dari blog ini

AC

COPAS..... 😁😁😁 Penting nih biar listrik nda boros.. Knpa ac aku nyalain 24 jam dan ngirit ga boros.. Karna aku tau triknya Kamu Harus Tau #wajib baca bagi pengguna AC #8 rahasia tentang penggunaan AC yang perlu kamu ketahui 😗 1.Suhu 26℃ dari AC adalah suhu yang paling tepat, nyaman dan tidak menyebabkan sakit. Meski tubuh manusia sendiri sudah bisa menyesuaikan suhu tubuh, tapi kemampuan tersebut juga ada batasnya. Bila suhu luar dan suhu dalam ruangan berbeda terlalu jauh, kamu pun bisa dengan mudah jatuh sakit. Suhu 26℃ adalah suhu dalam ruangan yang paling cocok, dan suhu ini pun paling membuat AC-mu irit. 2. Saat udara terlalu panas dan lembab, ubah mode AC menjadi "Dry" Saat musim hujan, udara akan terasa lebih panas dan lembab, nah pada saat ini, kamu ahrus mengubah mode AC-mu dari "cool" menjadi "dry". Mode "dry" ini tidak hanya bisa menyerap udara lembab, tapi juga bisa membantumu irit banyak! Saat kamu menyalakan mode "cool...

BUNDA YUNI KISAH KASIHNYA

Saya menemukan tulisan ini baru minggu yl langsung saya share. Sesungguhnya saya sdh menjalankan apa yg ada dlm tulisan ini sdh berpuluh th yg lalu. LUPAKAN CANCER KITA...LUPAKAN...LUPAKAN.... Dan saya lupakan, ya masukkan peti semua medical record dokter. putera saya sampai mengira saya bohong, mana bu medical recordnya? Saya mengambil keputusan " Biarlah dunia menganggap saya bohong, saya tdk akan pernah membuka medical record saya,  saya sdh berusaha melupakan sakit saya dan saya berhasil melupakan ,menidurkan Ca saya dan saya bisa hidup normal dg cinta kasih saya pd Allah yg Maha Penyayang dg memberikan bantuan dan kasih kpd yg membutuhkan, itu urusan saya....bukan urusan Orang lain, putera saya, menantu saya, suami saya bahkan saudara kandung saya... Diusia saya 65th saya masih bisa menikmati indahnya merawat bayi yg dibuang oleh ibunya sendiri, bayi yg lahir tanpa memiliki keluarga kecil apa lagi keluarga besar... Semua orang terdekat saya menentang saat saya menerim...