Langsung ke konten utama

MAIYAH KESEIMBANGAN

M A I Y A H

Maiyah adalah sebuah jalan pertengahan. Jika engkau bimbang dengan aneka perseteruan, cobalah singgah barang sejenak. Banyak sumur menanti kau timba dengan berbagai pertanyaan. Sekritis iblis sekalipun kalimat tanyamu, akan dijawab para bijak dengan senyum tulus. Di sinilah tungku tempa di mana tiada prasangka menyertai. Engkau berdaulat, bahkan didukung, untuk menjadi dirimu sendiri. Ingat, seiblis apapun dirimu.

Diskusi adalah jalan penuh pengertian ini. Bukannya cuci otak penuh tudingan menyalahkan, disertai pernyataan bahwa diri paling benar. Bahkan setiap tamu maupun pejalan Maiyah dilarang untuk mengidolakan siapapun kecuali Kanjeng Nabi. Selain mencegah rasa bangga atas kelompok, juga mengurangi peluang perpecahan. Kembali ke persamaan, alih-alih membualkan perbedaan. Begitulah prinsip Maiyah menyatukan mangkok yang pecah.

Maiyah sendiri melambangkan kebersamaan. Ia menampung kegelisahan, bahkan kemarahan. Seperti Kanjeng Nabi yang merangkul siapapun saja dalam perbincangannya. Baik kepada yang memusuhi, ataupun yang mencintai. Tanpa membedakan sedikitpun. Begitupun para akar di sebuah pohon Maiyah, senantiasa mengingatkan seluruh bagian pohon agar terus berbuat apa yang menjadi perannya. Kalaulah ia batang pohon, maka tegakkanlah diri menghadapi angin sekencang apapun. Andai mereka adalah daun, sigaplah mencari sinar informasi terbaru dari dunia luar untuk dicecap para akar. Sebuah simbiosis saling memenuhi kebutuhan pun terbentuk. Bagi para tamu Maiyah, dipersilakan merasakan buah Maiyah. Tanpa perlu wajib tahu seperti apa proses panjang untuk menjadi sebuah buah. Beda dengan bagian pohon Maiyah, harus paham bagaimana kedaulatan bisa menjadi bagian penting dari berdiri di pertengahan.

Maiyah pun bukanlah sebuah aliran apapun. Ia hanyalah sebuah kebersamaan menuju ketenteraman. Apapun agamanya bisa menjadi landasan bagi kenyamanan bersama di sebuah forum Maiyahan. Kebenaran tetaplah yang dinomorsatukan, sedangkan si pembawa tetaplah hanya penyampai. Perumpamaan iblis yang dijadikan sebagai lawan tanding, bukannya musuh yang nyata, adalah salahsatu contoh paling radikalnya.

Maka siapa bisa membidahkan, menyesatkan, bahkan mengkafirkan Maiyah? Sedangkan ia bukanlah bagian, apalagi sempalan sebuah agama. Soal penggunaan istilah Arab serta para akar yang menyuplai kebutuhan pohon Maiyah dengan nilai Islami, karena mereka diperjalankan bersua. Toh Maiyah sendiri tidak pernah menyalahkan pihak manapun atas kekeliruan yang diperbuatnya. Jika sesekali seolah menampar dengan keras pihak tertentu, diniatkan semata untuk mengingatkan sesama saudara sebagai bagian dari kemanusiaan.

Tanpa disadari Maiyah telah menjadi diri manusia itu sendiri. Dari sebuah sistem rumit tanpa bentuk itu telah melahirkan banyak sistem kecil di tiap diri pejalan Maiyah. Prinsip-prinsip menjalani hidup sebagaimana Kanjeng Nabi ajarkan, dijadikan pedoman utama dalam melakukan apapun. Seremeh membuang sampah sekalipun harus hasil dari berbagai proses pencarian keputusan. Jika memang pada titik tertentu sudah tak mampu berijtihad atau mencari jawaban sendiri, barulah taklid alias mengikuti jawaban oranglain, menjadi pilihan terakhir. Kewajiban manusia hanyalah mendayagunakan seluruh bagian dirinya dengan pertimbangan matang.

Semua tetap kembali ke diri. Manakah yang lebih dipercayai dan dipilih berdasarkan olah nalar, batin, serta kecenderungan manfaat-akibat. Bukankah setiap perbuatan manusia akan dipertanggungjawabkan? Dalam Maiyah, setiap pejalan belajar untuk bisa menghisab, menghitung, kira-kira yang dilakoni disukai atau malah membuat marah Tuhan. Yang terakhir tadi, paling ditakuti oleh pohon Maiyah. Tentu marahnya tadi hanya ekspresi saja, tak lantas digambarkan seperti marahnya seorang atasan pada bawahan.

Kalaulah tak yakin atas buah Maiyah yang dinikmati, silakan hadir di setiap forum Maiyahan. Di sana engkau bisa menemukan bahwa sekelas iblis pun tetap diterima dengan tangan terbuka. Tentu sebagai pembanding atas diri, bukannya seperti kawan yang setiap hari bertemu lantas berpisah jauh dalam waktu yang lama. Tenang, yang dimaksud iblis bukanlah engkau. Siapapun tidak berhak menghakimu. Selain mereka tak tahu sejatinya dirimu, juga hanya kuasa Tuhanlah dalam menilai. Ia-lah Maha Guru bagi para siswa berwujud manusia. Bukankah yang berhak mengisi laporan hasil belajar adalah guru? Aneh kalau sesama siswa justru saling mengisi lembar-lembar laporan itu. Apalagi diiringi perasaan merasa paling benar dengan semangat menyalahkan dalam tudingan menyesatkan.

Mungkin memang semboyan 'Bhinneka Manunggal Ika' sangat bisa menjadi simpulan dari Masyarakat Maiyah. Engkau bisa menjadi apapun, asal engkau ikhlas melebur dengan berbagai selainmu dalam tungku kebersamaan. Engkau akan hadir sebagai penyebar ketenteraman dalam sajian kemanusiaan. Bukankah memang demikian Kehendak Tuhan, saling mengenal dan memahami? Jalan sunyi, ya begini." Tutur Kang Sabar di sebuah sudut warung.

Sumber : Ihda Himada Soduwuh
(November  2105 )

Komentar

Postingan populer dari blog ini

AC

COPAS..... 😁😁😁 Penting nih biar listrik nda boros.. Knpa ac aku nyalain 24 jam dan ngirit ga boros.. Karna aku tau triknya Kamu Harus Tau #wajib baca bagi pengguna AC #8 rahasia tentang penggunaan AC yang perlu kamu ketahui 😗 1.Suhu 26℃ dari AC adalah suhu yang paling tepat, nyaman dan tidak menyebabkan sakit. Meski tubuh manusia sendiri sudah bisa menyesuaikan suhu tubuh, tapi kemampuan tersebut juga ada batasnya. Bila suhu luar dan suhu dalam ruangan berbeda terlalu jauh, kamu pun bisa dengan mudah jatuh sakit. Suhu 26℃ adalah suhu dalam ruangan yang paling cocok, dan suhu ini pun paling membuat AC-mu irit. 2. Saat udara terlalu panas dan lembab, ubah mode AC menjadi "Dry" Saat musim hujan, udara akan terasa lebih panas dan lembab, nah pada saat ini, kamu ahrus mengubah mode AC-mu dari "cool" menjadi "dry". Mode "dry" ini tidak hanya bisa menyerap udara lembab, tapi juga bisa membantumu irit banyak! Saat kamu menyalakan mode "cool...

BUNDA YUNI KISAH KASIHNYA

Saya menemukan tulisan ini baru minggu yl langsung saya share. Sesungguhnya saya sdh menjalankan apa yg ada dlm tulisan ini sdh berpuluh th yg lalu. LUPAKAN CANCER KITA...LUPAKAN...LUPAKAN.... Dan saya lupakan, ya masukkan peti semua medical record dokter. putera saya sampai mengira saya bohong, mana bu medical recordnya? Saya mengambil keputusan " Biarlah dunia menganggap saya bohong, saya tdk akan pernah membuka medical record saya,  saya sdh berusaha melupakan sakit saya dan saya berhasil melupakan ,menidurkan Ca saya dan saya bisa hidup normal dg cinta kasih saya pd Allah yg Maha Penyayang dg memberikan bantuan dan kasih kpd yg membutuhkan, itu urusan saya....bukan urusan Orang lain, putera saya, menantu saya, suami saya bahkan saudara kandung saya... Diusia saya 65th saya masih bisa menikmati indahnya merawat bayi yg dibuang oleh ibunya sendiri, bayi yg lahir tanpa memiliki keluarga kecil apa lagi keluarga besar... Semua orang terdekat saya menentang saat saya menerim...