Langsung ke konten utama

BANK SAIMUN

Bank Samiun
Oleh Emha Ainun Nadjib

Kalau ada sesuatu dalam kehidupan ini yang saya hampir sama sekali buta huruf adalah masalah ekonomi.

Mungkin saya sedikit tahu hubungan antara sakit pusing kepala dan keadaan usus di perut atau dengan sejumlah kalimat yang dilontarkan oleh istri tadi malam. Mungkin juga saya ala kadarnya mengerti keterkaitan antara gejala-gejala di jalan raya, di kantor-kantor, di masjid, dan di pasar, dengan metabolisme makro suatu masyarakat yang sakit.

Namun, kalau soal ekonomi, ampun seribu ampun. Setiap istilah ekonomi memerlukan tenaga yang sama dengan yang saya butuhkan untuk merenungkan alam makrifat dan laduni tingkat tinggi. Atau, setidaknya sama dengan energi yang saya keluarkan untuk bermain sepak bola lima jam nonstop.

Pokoknya soal-soal ekonomi, bagaimana uang berputar di muka bumi, bagaimana berdagang, bagaimana menjalankan perusahaan, apalagi bagaimana sistem-sistem besar perekonomian dimekanisaskan, hamba bodoh sebodoh-bodohnya.

Pengetahuan saya hanya satu: kalau menulis di koran, saya menerima honorarium.

Lha, kok hari Sabtu malam 13 April 1991 yang lalu saya harus terlibat dalam diskusi tentang pendirian “Bank Islam” oleh Yayasan Uswatun Hasanah di bawah Majelis Ulama Indonesia.

Pertemuan di rumah usahawan terkenal Setiawan Djody itu berlangsung sejak usai shalat Tarawih hingga hampir tengah malam. Dan saya yakin tak ada hadirin yang tersiksa selama tiga jam lebih itu melebihi saya.

Alangkah pandainya tokoh-tokoh itu. Pak Prodjokusumo, Pak Fadel Muhammad, Pak Sri Edi Swasono, Pak Adi Sasono, dan puluhan tokoh Islam lain.

Kalau ingat bank, saya hanya tahu bahwa kalau saya masuk gedung bank, selalu langsung dicurigai satpam dan polisi yang bertugas. Kalau saya dikasih cek oleh seorang teman, pada umumnya saya gagal menguangkannya, karena ada-ada saja halangan yang terutama bersumber dari profil teroris di wajah dan mimik saya.

Itu tak hanya di Indonesia. Juga di Amerika, di Negeri Belanda, Jerman, dan lain-lain. Kalau saya ngurus sesuatu di bank, kejadiannya jadi sumpek. Mungkin karena alam kemakhlukan saya memang ditakdirkan untuk alergik atau dicurigai oleh segala unsur profesionalitas formal dunia modern. Gampangnya, saya ini dibolak-balik, ya tetap orang dusun. Orang udik.

Setiap kali ingat bank, saya ingat bunga. Saya tidak lantas merenungkannya, tetapi melawakkannya. Saya bertanya kepada pegawai bank: “How much is the flower?” Berapa bunganya?

Dan ketika rapat Sabtu malam itu mendiskusikan Bank Tanpa Bunga, otak saya juga hanya melawak: “Say it with no flower!”

Saya ingat di Jawa Timur para ulama bertengkar tentang bunga bank. Yang satu bilang bunga itu riba, lainnya bilang tidak. Lainnya lagi bilang itu bergantung pada konteks penggunaan uang oleh para pemakai jasa bank.

Saya ingat Kiai Yasin Hasan Abdullah dari Pasuruan mengkritik Dawam Rahardjo: “Dawam bilang untuk menghilangkan rentenir harus melalui bank. Lha, bank itu apa bukan sedulurnya rentenir?”

Namun, rupanya kaum intelektual modernis dari kalangan Islam di Jakarta cenderung pada pendapat yang menggelisahkan keribaan bunga. Maka, mereka mendirikan Bank Tanpa Bunga. Dan itulah Bank Islam. Tujuannya untuk menolong kaum dhu‘afa. Kaum lemah. Meskipun saya tidak bisa membayangkan lapis kaum lemah yang mana yang akan pernah tersentuh oleh mekanisme bank. Jadi, tampaknya persentuhan bank ini terutama dengan kalangan menengah ke atas juga.

Akan tetapi, ya alhamdulillah-alhamdulillah saja saya. Saya tidak mengerti dan tak bisa menilai. Namun, tetap saya ucapkan ahlan wa sahlan, baik kepada Bank Islam maupun kepada Bank Samiun.

Yogya Post, 19 April 1991.
Posted DTrenggana

Komentar

Postingan populer dari blog ini

AC

COPAS..... 😁😁😁 Penting nih biar listrik nda boros.. Knpa ac aku nyalain 24 jam dan ngirit ga boros.. Karna aku tau triknya Kamu Harus Tau #wajib baca bagi pengguna AC #8 rahasia tentang penggunaan AC yang perlu kamu ketahui 😗 1.Suhu 26℃ dari AC adalah suhu yang paling tepat, nyaman dan tidak menyebabkan sakit. Meski tubuh manusia sendiri sudah bisa menyesuaikan suhu tubuh, tapi kemampuan tersebut juga ada batasnya. Bila suhu luar dan suhu dalam ruangan berbeda terlalu jauh, kamu pun bisa dengan mudah jatuh sakit. Suhu 26℃ adalah suhu dalam ruangan yang paling cocok, dan suhu ini pun paling membuat AC-mu irit. 2. Saat udara terlalu panas dan lembab, ubah mode AC menjadi "Dry" Saat musim hujan, udara akan terasa lebih panas dan lembab, nah pada saat ini, kamu ahrus mengubah mode AC-mu dari "cool" menjadi "dry". Mode "dry" ini tidak hanya bisa menyerap udara lembab, tapi juga bisa membantumu irit banyak! Saat kamu menyalakan mode "cool...

BUNDA YUNI KISAH KASIHNYA

Saya menemukan tulisan ini baru minggu yl langsung saya share. Sesungguhnya saya sdh menjalankan apa yg ada dlm tulisan ini sdh berpuluh th yg lalu. LUPAKAN CANCER KITA...LUPAKAN...LUPAKAN.... Dan saya lupakan, ya masukkan peti semua medical record dokter. putera saya sampai mengira saya bohong, mana bu medical recordnya? Saya mengambil keputusan " Biarlah dunia menganggap saya bohong, saya tdk akan pernah membuka medical record saya,  saya sdh berusaha melupakan sakit saya dan saya berhasil melupakan ,menidurkan Ca saya dan saya bisa hidup normal dg cinta kasih saya pd Allah yg Maha Penyayang dg memberikan bantuan dan kasih kpd yg membutuhkan, itu urusan saya....bukan urusan Orang lain, putera saya, menantu saya, suami saya bahkan saudara kandung saya... Diusia saya 65th saya masih bisa menikmati indahnya merawat bayi yg dibuang oleh ibunya sendiri, bayi yg lahir tanpa memiliki keluarga kecil apa lagi keluarga besar... Semua orang terdekat saya menentang saat saya menerim...