Curcol kepagian #8
Kemaren dan hari ini, anak2 sekolah pada nerima raport.
Lembaran2 yg berisikan nilai berupa angka, yg selama ini disalahpahami sbg indikator kecerdasan seseorang.
Demi dapat nilai bagus, banyak anak yg ngotot belajar atau ngotot nyontek. Orang tua juga banyak yg ketipu dgn angka2 itu.
Kenapa ketipu? Karena banyak yg nilainya bagus, lulus sekolah bingung. Mau dikerjai siapa, daftar sana sini, nilainya tdk membuat ia kreatif bisa kerja sendiri. Nilainya cuma bagus di dalam ruang kelas, bukan ruang kehidupan.
Saya sendiri sempat lama ketipu. Selama SD, ranking satu saya borong habis. Hanya sekali saja saya ranking tiga. Lainnya satu semua.
Ketika SMP dan SMA, walau tdk ranking satu, tp saya selalu masuk lima besar terus.
Baru pada kuliah, saya menggugat.
Saya tidak percaya pada IPK, saya mengejar skill dan talenta. Setinggi apapun dirimu, jika tak punya value, tetap akan kebingungan kerja, jd pegawai, daftar sana sini, entah jd babu kere, atau babu elit, misal komisaris BUM N, badan usaha milik neneknya.
Bukan berarti ini pembelaan krn nilai saya kuliah jelek, tdk jelek2 amatlah, walau bukan 4 penuh, tapi IPK 3 tdk buruk2 amat. Angka yg aman utk masuk PNS.
Tapi saya tdk pernah sekalipun daftar PNS guru. Padahal dua tahun pelajaran Seni Budaya sampai kekurangan yg mendaftar, krn mapel baru ketika itu, lulusannya belum seluber sekarang.
Banyak2 kawan2 saya yg belum lulus jd semangat lulus krn penerimaan mapel baru ini. Kawan2 sekelas saya hampir semua jd PNS.
Tidak buruk jadi PNS, baik2 saja, tp saya berpikir, jika semua jd PNS, terus yg tdk jd PNS siapa?
Yang tdk daftar jd pegawai manapun siapa?
Dalam hati saya menjawab, ya sudah saya saja.
Waktu itu saya berpikir simpel, kalau WS Rendra dan Emha zaman dulu jadi PNS, maka Indonesia akan kehilangan dua penulis besar.
Harus ada orang2 yg berani keluar dr selera kebanyakan sarjana.
Ada kutipan keren yg saya suka ;
"Mereka yg mengikuti kata hatinya, sebagian jadi legenda, sebagiannya lagi gila!"
Kalimat ini yg membuat saya semangat. Walau tak jadi legenda, gila tak masalah. Sebab legenda mana yg tdk gila? Semua legenda adalah orang2 gila.
Mereka tdk ikut arus zaman, mereka malah menciptakan sejarah zaman.
Uniknya, dari semua mrk itu, lebih banyak yg nilai raportnya bagus2. Sekolah dan kuliahnya biasa2 saja.
Tidak istimewa.
Hehe.
\M/
Komentar
Posting Komentar