Langsung ke konten utama

LABA UNTUK RAKYAT

Renungan Perjalanan:

PENGADILAN SEJATI
Oleh Emha Ainun Nadjib

Asyik deh pokoknya. Maka, sekali, ada baiknya kembali bercermin ke cakrawala. Multidimensi kemungkinan kehidupan semacam itu mengingatkan kita pada keniscayaan pengadilan sempurna, pengadilan sejati.

Penglihatan terhadap pengadilan sejati tidak berarti merupakan cuci tangan manusia dengan alasan ketidaksempurnaan dan ketidaksejatian. Ia setidaknya mendorong dua rangsangan.

Pertama,
agar segala sistem hukum terus kreatif, terus membuka diri dan berjalan mendekati penyempurnaan dan penyejatian, bergerak ke inti dan rangka moral keadilan yang sejauh mungkin berusaha merangkum kemenyuluruhan kemungkinan perbuatan manusia, lebih mengasah cinta kasih - mengerti bahwa kesalahan seorang manusia hari ini bisa bersumber dari rintisan keadaan abad yang telah silam.

Apa yang disebut objektifitas dalam sistem hukum yang selama ini kita kenal, sebenarnya adalah tindakan memenggal keseluruhan kemungkinan latar belakang perbuatan manusia, menjadi hanya lingkup suatu peristiwa itu sendiri dalam dimensinya yang mungkin teknis belaka.

Lebih rendah dari itu bahkan, kita pernah menyaksikan suatu moralitas hukum yang hina di mana beribu orang harus langsung mati tanpa terbukti dulu kesalahannya. Bahkan kita, sebagai masyarakat, juga sering melakukan tradisi yang mirip, dengan menghukum seseorang secara amat gampang tanpa melewati suatu proses pengadilan yang memadai.

Di sebuah tempat di Eropa aku pernah bekerja di sebuah kantor advokat sebagai pencuci piring: para "pengadil kiri" itu sering menunjukkan aspirasi yang lebih manusiawi, di mana seseorang yang kena perkara coba didekati dan ditelusuri secara menyeluruh latar belakang perbuatannya.

Tentulah mustahil saat ini untuk menerjemahkan suatu tatanan hukum yang meringankan hukuman bagi pencurianmu, namun pertimbangan bahwa kemelaratan keluargamu sesungguhnya bermula sejak "kebijaksanaan gula" kaum kolonial di jaman baheula dulu.

Tetapi perlunya memperhatikan aspek historis dari kandungan setiap kesalahan manusia ialah karena para pengadil manusia adalah juga manusia.

Sistem hukum bukan instrumen yang beku: apalagi kita mengalami suatu keadaan di mana para ahli hukum, bisa jadi, adalah manusia yang paling mengerti bagaimana menyelewengkan hukum.

Yang jelas, tatanan hukum yang dalam beberapa segi masih ahistoris dan amanusiawi - minimal - ia bukan tanah tandus bagi pohon kemunafikan.

Dan apabila ia tergenggam di tangan manusia hakim yang juga munafik, maka pisau hukum bisa berperan sebagai pisau pembunuh manusia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

AC

COPAS..... 😁😁😁 Penting nih biar listrik nda boros.. Knpa ac aku nyalain 24 jam dan ngirit ga boros.. Karna aku tau triknya Kamu Harus Tau #wajib baca bagi pengguna AC #8 rahasia tentang penggunaan AC yang perlu kamu ketahui 😗 1.Suhu 26℃ dari AC adalah suhu yang paling tepat, nyaman dan tidak menyebabkan sakit. Meski tubuh manusia sendiri sudah bisa menyesuaikan suhu tubuh, tapi kemampuan tersebut juga ada batasnya. Bila suhu luar dan suhu dalam ruangan berbeda terlalu jauh, kamu pun bisa dengan mudah jatuh sakit. Suhu 26℃ adalah suhu dalam ruangan yang paling cocok, dan suhu ini pun paling membuat AC-mu irit. 2. Saat udara terlalu panas dan lembab, ubah mode AC menjadi "Dry" Saat musim hujan, udara akan terasa lebih panas dan lembab, nah pada saat ini, kamu ahrus mengubah mode AC-mu dari "cool" menjadi "dry". Mode "dry" ini tidak hanya bisa menyerap udara lembab, tapi juga bisa membantumu irit banyak! Saat kamu menyalakan mode "cool...

BUNDA YUNI KISAH KASIHNYA

Saya menemukan tulisan ini baru minggu yl langsung saya share. Sesungguhnya saya sdh menjalankan apa yg ada dlm tulisan ini sdh berpuluh th yg lalu. LUPAKAN CANCER KITA...LUPAKAN...LUPAKAN.... Dan saya lupakan, ya masukkan peti semua medical record dokter. putera saya sampai mengira saya bohong, mana bu medical recordnya? Saya mengambil keputusan " Biarlah dunia menganggap saya bohong, saya tdk akan pernah membuka medical record saya,  saya sdh berusaha melupakan sakit saya dan saya berhasil melupakan ,menidurkan Ca saya dan saya bisa hidup normal dg cinta kasih saya pd Allah yg Maha Penyayang dg memberikan bantuan dan kasih kpd yg membutuhkan, itu urusan saya....bukan urusan Orang lain, putera saya, menantu saya, suami saya bahkan saudara kandung saya... Diusia saya 65th saya masih bisa menikmati indahnya merawat bayi yg dibuang oleh ibunya sendiri, bayi yg lahir tanpa memiliki keluarga kecil apa lagi keluarga besar... Semua orang terdekat saya menentang saat saya menerim...